Tak Perlu Diungkit

Bisa juga hal tersebut kita jadikan sebagai aturan karena sebetulnya anak prasekolah sudah mampu melakukan hal-hal terpuji setiap harinya, hanya saja dia malas. “OK, sekarang kalau kamu bisa bangun pagi langsung beres-beres tempat tidur, sepulang sekolah langsung memasukkan pakaian ke keranjang cucian, dan membantu Mama, akan beri hadiah.”

Jika aturan ini berhasil, selanjutnya kita perpanjang pemberian reward. Misalnya, setelah bisa melakukan aktivitas harian selama 2 minggu dengan baik, baru kita kasihreward. Begitu seterusnya. “Lama-lama hal tersebut akan menjadi kebiasaan anak. Kita pun secara otomatis sudah bisa mencabut pemberian reward,”. Memang mungkin ada saat- saat di mana anak “lupa” mengerjakan tugas rutinnya. Nah, tugas orang tua mengingatkan hal itu. Yang juga harus diingat,orang tua tak perlu mengungkit-ungkit lagireward yang telah diterima anak. “Supaya anak mengerti, perbuatan seperti itulah yang membuat kita perhatian dan sayang padanya.”

Soalnya, jika kita mengungkit reward yang dia terima, “Bisa dimanfaatkan anak untuk memenuhi keinginannya. Anak tidak belajar mengolah perbuatan yang dilakukan. Yang dia pikirkan adalah tujuan akhirnya.” Seharusnya, kan, anak bisa merasakan, “Ternyata aku mampu, kok, membereskan tempat tidur sendiri,” misalnya, atau “Aku ternyata pintar juga menyemir sepatu Bunda dan Ayah,” misalnya. Mudah, kan?

Pos ini dipublikasikan di Psikologi Anak dan tag , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s