Dampak Problem Kelekatan Anak

Anak-anak yang kebutuhan emosionalnya tidak terpenuhi akibat problem kelekatan yang dialami, berpotensi mengalamimasalah intelektual, masalahemosional dan masalah moral dan sosial di kemudian hari.

Masalah Intelektual:
1. Mempengaruhi kemampuan pikir sepert i halnya memahami proses sebab-akibat
Ketidakstabilan atau ketidakkonsistenan sikap orangtua, mempersulit anak melihat hubungan sebab-akibat dari perilakunya dengan sikap orangtua yang diterimanya. Dampaknya akan meluas pada kemampuannya dalam memahami kejadian atau perist iwa-peristiwa lain yang dialami sehari-hari. Akibatnya, anak jadi sulit belaj ar dari kesalahan yang pernah dibuatnya.

2. Kesulitan belajar
Kurangnya kelekatan dengan orangtua, membuat anak lamban dalam memahami baik itu inst ruksi maupun pola-pola yang seharusnya bisa dipelajari dari perlakuan orangtua terhadapnya atau kebiasaan yang dilihat / dirasakannya.

3. Sulit mengendalikan dorongan
Kebutuhan emosional yang t idak perpenuhi, membuat anak sulit menemukan kepuasan at as situasi  / perlakuan yang diterimanya, meski bersifat positif. Ia akan terdorong unt uk selalu mencari dan mendapatkan perhatian orang lain. Unt uk itu, ia berusaha sekuat tenaga, dengan caranya sendiri unt uk mendapat kan j aminan bahwa dirinya bisa mendapat kan apa yang diinginkan.

Masalah Emosional:
1. Gangguan bicara
Menurut sebuah hasil penelitian, problem kelekatan yang dialami anak sejak usia dini, dapat mempengaruhi kemampuan bicaranya. Dalam dunia psikologi, hingga usia 2 t ahun dikat akan sebagai masa oral, dimana seorang anak mendapat kepuasan melalui mulut (menghisap mengunyah makanan dan minuman). Oleh sebab it u lah proses menyusui menurut para ahli merupakan proses yang amat pent ing unt uk membangun rasa aman yang didapat dari pelukan dan kehangat an t ubuh sang ibu. Ada kemungkinan anak yang mengalami hambatan pada masa ini akan mengalami kesulit an at au ket erlambat an bicara.

Memang, secara psikologis anak yang merasakan ket idaknyamanan akan kurang percaya diri dalam mengungkapkan keinginannya. Atau, kurangnya kelekatan tersebut membuat anak berpikir bahwa orangt ua t idak mau memperhat ikannya sehingga ia lebih banyak menahan diri. Akibat nya, anak j adi tidak terbiasa mengungkapkan diri, berbicara atau mengekspresikan diri lewat kata-kat anya. Ada pula penelit ian yang mengatakan, bahwa melalui komunikasi yang hangat seorang ibu terhadap bayinya, lebih memacu perkembangan kemampuan bicara anak karena si anak terpacu untuk merespon kat a-kat a ibunya.

2. Gangguan pola makan
Ada banyak orangtua yang kurang responsif / kurang tanggap terhadap tangisan bayinya. Mereka t akut j ika t erlalu menurut i t angisan bayinya, kelak ia akan j adi anak manj a dan menj aj ah orangt ua. Padahal, tangisan seorang bayi adalah suatu cara untuk mengkomunikasikan adanya kebutuhan seperti halnya rasa lapar atau haus. Ketidakkonsistenan orangtua dalam menanggapi kebutuhan f isiologis anak, akan ikut mengacaukan proses met abolisme dan pola makan anak.

3. Perkembangan konsep diri yang negat if
Ketiadaan perhatian orangtua, sering mendorong anak membanguni mage bahwa dirinya mandiri dan mampu hidup t anpa bant uan siapa pun.Image it u berusaha keras dit ampilkan unt uk menut upi kenyataan yang sebenarnya. Padahal, dalam dirinya tersimpan ketakutan, rasa kecewa, marah, sakit hati terhadap orangtua, sementara ia juga menyimpan persepsi yang buruk terhadap diri sendiri. Ia merasa tidak diperhatikan, merasa disingkirkan, merasa tidak berharga sehingga orangt ua t idak mau mendekat padanya (dan, memang ia j uga merasa t idak ingin didekat i)
Tanpa sadar semua perasaan itu diekspresikan melalui tingkah laku yang aneh-aneh, yang orang menyebutnyanakal,liar,menyimpang. Mereka juga terlihat suka menuntut secara berlebihan, suka mencari perhatian dengan cara-cara yang negatif, sangat tergantung, tidak bisa memperhatikan orang lain (tapi menunt ut perhat ian untuk dirinya), sulit mencintai dan menerima cint a dari orang lain.

Masalah Emosional
Anak akan sulit melihat mana yang baik dan t idak, yang boleh dan t idak boleh, yang pent ing dan kurang pent ing, dari keberadaan orangt ua yang j uga t idak bisa menj amin ada t iadanya, yang t idak dapat memberikan patokan moral dan norma karena mereka mengalami kesulitan dengan dirinya sendiri, kesulitan dalam memenuhi kebutuhan emosional mereka sendiri, kesulitan dalam mengendalikan dorongan mereka sendiri. Akibatnya, anak hanya meniru apa yang dilihatnya dari orangt ua dan mencari cara agar t idak sampai t erkena hukuman berat . Tidak j arang anak-anak tersebut memunculkan sikap dan tindakan sepert i : suka berbohong (yang sudah tidak waj ar), mencuri (karena ingin mendapat kan keinginannya), suka merusak dan menyakit i (baik diri sendiri maupun orang lain), kej am, dan menurut sebuah penelitian, mereka cenderung t ert arik pada darah, api dan benda t aj am.

Pos ini dipublikasikan di Psikologi Anak dan tag , , , , , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s