Anak Batita Sudah Bisa Memilih Teman

Meski anak usia batita belum pandai bersosialisasi, tapi mereka sudah bisa memilih teman yang cocok baginya, lo. Anak akan memilih teman-teman yang dirasa bisa membuatnya nyaman saat bermain. Teman-teman, baik itu yang sebaya atau yang lebih dewasa, jika sikapnya dianggap tidak menyenangkan, seperti galak atau kerap memukul, pasti dijauhi anak. Nah, saat bermain itulah kadang terjadi “transfer” sifat atau karakter. Anak-anak bisa meniru atau bersikap latah terhadap sikap teman-teman bermainnya. Anak yang mulanya bersifat pendiam, bisa mendadak agresif. Jika marah dia menggigit atau melempar-lempar barang, misalnya. Bisa juga terjadi sebaliknya, anak-anak yang tadinya terlihat aktif dan ceria, mendadak pendiam setelah lama bergaul dan bermain dengan anak-anak pendiam dalam jangka waktu lama. Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Psikologi Anak | Tag , , , | Meninggalkan komentar

Proses Imitasi dan Identifikasi Pada Usia Batita

Proses imitasi atau peniruan pada usia batita akan dilanjutkan ke proses identifikasi pada usia prasekolah. Jadi waspadalah, karena di usia ini berarti anak sudah siap menuju proses berikutnya. “Ia bukan hanya akan mengambil gaya bicara dan tingkah laku kita, tapi juga pada karakteristik kita sebagai manusia dewasa.”

Nantinya, anak tidak hanya membeo apa saja yang kita lakukan, tapi juga menjadikannya sebagai bagian dari dirinya. “Ia merasa dirinya adalah orang atau model yang ditirunya. Ia percaya, ia mampu melakukan apa saja yang dilakukan si model. Dalam kehidupan sehari-hari, ia mengambil semua yang melekat pada diri model. Ia akan meniru cara si model makan, berpakaian, gaya berbicara, dan bertingkah laku. Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Psikologi Anak | Tag , , , , | Meninggalkan komentar

Contoh Wajar Sifat Latah

Mengarahkan anak untuk melakukan peniruan pada hal-hal yang positif saja bisa dilakukan sambil kita menunjukkan sifat dan kebiasaan baik. Bagaimanapun, anak akan melakukan imitasi terhadap orang yang paling dekat dengan dirinya, yaitu orang tua. Anak akan meniru semua sikap dan tutur kata kita, tidak peduli apakah sifat itu positif atau negatif. Jadi, berhati-hatilah terhadap sifat dan kebiasaan-kebiasaan buruk jika kita tak ingin si kecil mencontohnya. Tentunya, beri contoh yang wajar, tak perlu dibuat- buat. Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Psikologi Anak | Tag , , , | Meninggalkan komentar

Baik Buruknya Anak Bersikap Latah

Baik buruknya anak bersikap latah terhadap sang teman tergantung apa yang ditirunya. Jika sifatnya negatif, maka orang tua harus segera menghentikan dengan memberinya penjelasan kepada anak. Sebaliknya, jika yang dicontoh adalah hal-hal positif, maka orang tua justru harus memberikan dukungan agar anak terus melakukan hal itu. Ikut-ikutan menangis termasuk perilaku yang tak patut ditiru. Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Psikologi Anak | Tag , , , | Meninggalkan komentar

Penyebab Anak Menjadi Latah

Penyebab anak menjadi latah, bisa disebabkan berbagai faktor. Salah satunya, rasa senang yang diakibatkan oleh perilaku peniruan tersebut. Misal, saat anak meniru anak lainnya memukul-mukul meja, awalnya tanpa sadar ia melakukannya karena melihat temannya memukul-mukul meja, tapi lambat laun anak juga menemukan kesenangan dari kegiatan tersebut. Saat tangannya ikut bergerak, pukulannya mengeluarkan bunyi yang membuat anak senang dan bergembira. Selain itu, faktor perhatian pun bisa menjadi pemicu anak menjadi latah. Entah perhatian itu berbentuk pujian, tertawaan, atau hal-hal lain yang bisa menyenangkan anak. Misal, saat anak mencoba meniru perilaku kakaknya yang suka menggaruk-garuk kepala, orang tua atau orang lain yang menyaksikannya tertawa terpingkal-pingkal atau minimal menyunggingkan senyuman. Nah, dengan tertawaan atau senyuman tadi anak merasa menjadi pusat perhatian, dan ia akan terus mempertahankan sikap peniruan tadi. Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Psikologi Anak | Tag , , , | Meninggalkan komentar

Peran Aktif Orangtua Dalam Mengatasi Anak Fobia

Menurut literatur, anak usia prasekolah mulai mengetahui sesuatu atau sosok yang menakutkan dari buku-buku cerita seperti dongeng atau melalui video, film kartun dan tayangan televisi lainnya yang bertubi-tubi. Misalnya sajian bertopik kriminalitas atau kisah-kisah bernuansa misteri/hantu. Kebiasaan menakuti-nakuti anak sudah saatnya ditinggalkan. Mestinya orang tua menyadari efek berkepanjangan yang bisa ditimbulkan.

Kalaupun anak susah diatur, tak ada salahnya mencari cara lain yang lebih bijak. Yang pasti, jangan sampai mengusik rasa aman dan nyaman si prasekolah. Orang tua juga seyogyanya menjadi sosok teladan bagi si kecil. Artinya, bila ibu/bapak sendiri adalah seorang yang penakut, maka jangan heran bila sifat ini “menular” pada anak. Jadi, setakut apa pun, orang tua harus berupaya untuk tampil yakin dan tetap tenang, terutama ketika berada di hadapan anak. Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Psikologi Anak | Tag , , , , | Meninggalkan komentar

Berkembang Jadi Fobia

Jika sejak kecil anak selalu takut, sementara tak ada dorongan dari orang tua untuk mengatasi rasa takut tersebut, tidak tertutup kemungkinan ketakutannya bisa berkembang menjadi fobia/takut yang berlebihan. “Kalau tak diantisipasi, bisa menjadi sesuatu yang menghambat segalanya. Ke mana-mana takut, hingga jiwanya juga tak berkembang,”. Padahal sebagai orang tua harusnya tahu bahwa anak membutuhkan rasa aman dan nyaman. Bila lingkungan malah membuat anak makin merasa takut, maka jangan harap bakal tercipta rasa aman dan nyaman. Kelak jika suasana takut itu terus-menerus “dipelihara”, justru proses bermain dan belajar si anak akan terganggu juga. Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Psikologi Anak | Tag , , , , | Meninggalkan komentar